Pacuan kuda adalah olah raga berkuda
yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Kuda dilatih untuk
berpacu menuju garis akhir (finish) melawan peserta lain. Contohnya adalah
balap kereta kuda yang populer pada masa Romawi kuno. Di kalangan
masyarakat Nordik juga dikenal pacuan kuda milik dewa Odin dengan
raksasa Hrungnir dalam mitologi mereka. Pacuan kuda
seringkali tidak dapat dipisahkan dari judi. Olah raga ini sering disebut
sebagai Olah raga raja-raja.
Atlit dibina berdasarkan minatnya, keterampilan dan
kesungguhannya, sementara kuda dikembangkan melalui pemasukan kuda dari luar
negri atau diternakkan di dalam negri (Soekotjo, 2005). Adapun kebaikan
olahraga berkuda antara lain, tidak terbatas oleh usia, jenis kelamin, kondisi
fisik/ mental/ emosi (Motira, 2005).
Pengaruh perkembangan teknologi modern membawa peranan
kuda yang semula lebih dominan bagi keperluan militer, kemudian beralih untuk
kegiatan olahraga. Hikmah dari kemajuan teknologi yang mulai dinikmati manusia,
telah mengubah anggapan semula terhadap kuda sebagai budak yang bisa digunakan
sesuka hati, menjadi teman yang harus dihargai dan diperlakukan sebagaimana
layaknya.
Berbagai macam olahraga berkuda yang selama ini
dikenal diantaranya yaitu, Polo berkuda, perlombaan Kereta Berkuda, Tent
Pegging, Gymkhana, berburu, Equestrian, dan lain-lain. Berikut merupakan
penjelasan secara garis besar mengenai beberapa jenis olahraga berkuda
yang umum diperlombakan di Indonesia.
1. Polo Berkuda
Sejak tahun 525 SM beberapa negara di Timur Tengah
telah mengenal permainan polo berkuda. Diduga permainan ini berasal dari
negeri Parsi. Di Parsi permainan ini disebut Chaugan, sedang di Assam (India)
dikenal dengan nama Manopur. Sejak tahun 1850, polo berkuda sangat digemari
oleh para pengusaha perkebunan teh di Assam. Satuan kavaleri Inggris memberikan
perhatian pada olahraga ini, sehingga kemudian resimen ke 10 Hussars
mendemonstrasikannya kepada penduduk kota Hounslow (Inggris). Olahraga polo
berkuda kemudian dikenalkan ke Amerika pada tahun 1883, sekarang Argentina
merupakan negara yang selalu tampil dan mengungguli pertandingan olahraga ini.
Objek dari permainan ini adalah memasukkan bola ke gawang tim musuh dengan
menggunakan tongkat kayu, setiap tim terdiri dari empat orang pemain dimana
masing-masing pemain berada diatas kuda.
2. Gymkhana Berkuda
Gymkhana merupakan permainan berkuda, kebanyakan
dilakukan oleh penunggang remaja. Dalam kecepatan tinggi penunggang berusaha
melewati atau mengitari rintangan (barrel race) atau melakukan
permainan-permainan lainnya dengan menunggang kuda.
3. Equestrian (ketangkasan berkuda)
Seperti halnya olahraga berkuda lainnya ketangkasan
berkuda (equestrian), olahraga yang melibatkan dua mahluk. Kuda dan atlitnya (rider/penunggang)
harus sering berinteraksi agar terjalin kerja sama dan kasih sayang antara
keduanya, serta tercipta kedisiplinan dan perhatian satu sama lain. Olahraga
equestrian terdiri dari disiplin (cabang):
a. Tunggang Serasi
Dressage adalah suatu kata dalam bahasa Perancis
yang berarti “pendidikkan.” Kuda-kuda dilatih untuk melakukan manuver
gerakan-gerakan rumit dengan sedikit gerakan perintah dari tangan , kaki, dan
berat tubuh yang mana merupakan perintah yang diberikan oleh penunggang (Mike
dan Diana, 1998). Sedangkan judge Mrs.Clem Kelly (AUS) dalam http://www.equestrian-indonesia.org/dressage.htm(2005), mendefinisi
tunggang serasi atau Dressage adalah cabang olahraga olimpik – dan
merupakan dasar dari semua nomor ketangkasan berkuda. Selain menjadi olahraga
yang sangat kompetitif, dressage juga merupakan kesenian.
Yang dilihat adalah
keindahan dan keanggunan seekor kuda yang atletis, lentur dan luwes yang
bergerak sesuai dengan pertolongan yang sangat halus dari penunggangnya. Ia
melakukan serangkaian gerakan yang diberikan nilai antara 0-10, mirip dengan
olahraga senam lantai/ gymnastics. Dengan peningkatan kemampuan kuda yang
dicapai dalam waktu berberapa tahun, keselarasan dalam keserasian dan
kepercayaan total didapatkan diantara kombinasi kuda-penunggang. Test dressage
tingkat tinggi mengandalkan kesenian para master dressage klasik dengan tujuan
akhir - kesempurnaan total.
Cabang olahraga berkuda ini menuntut keserasian baik
penunggang maupun kudanya pada saat melakukan suatu gerakan, dimana
keterampilan dan pengalaman penunggang sangat menentukan untuk menciptakan atau
membentuk kelincahan dan keluwesan dari tiap gerakan yang dihasilkan sehingga
terkesan kuda melangkah dan bergerak atas dasar keinginan sendiri tanpa adanya
perintah dari penunggang.
Tujuan Dressage atau Tunggang Serasi adalah
pengembangan fisik kuda dan keserasian penunggang dengan kuda. Keterampilan dan
mutu yang baik terlihat dari ayunan langkah yang bebas dan sama rata, seolah
kuda bergerak mudah dan tanpa beban. Kudanya memberi kesan bahwa ia melakukan
semua gerakan dengan sendiri, karena pertolongan yang ringan dari penunggang
tidak dapat terlihat lagi.
Dalam semua kompetisi, kuda harus menunjukkan tiga
cara berjalan: Walk, Trot dan Canter, dan juga transisi dari dan ke berlainan cara
berjalan dan dalam cara berjalan sendiri (collection – extension – collection).
Adapun tes dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Tes
tingkat mudah mencakup gerakan seperti Halt (berhenti), Rein-Back (mundur),
lingkaran kecil, Walk-Pirouette (berputar di tempat) dan gerakan menyamping.
Tingkat sedang juga mencakup flying changes (ganti kaki di udara) di canter.
Dalam tingkat Grand-Prix, yaitu yang paling sulit yang juga dipertandingkan
dalam Olimpiade, adapun gerakan seperti Piaffe, dimana kuda memberi kesan
seolah ia berjalan di tempat, dan Passage, yaitu trot dengan langkah yang lebih
diayun, dengan “suspensi” dan ke atas.
Dalam tes Freestyle to Music penunggang dapat
menentukan sendiri lagu, koreografi dan urutan gerakan yang wajib
diperlihatkan. Dalam Freestyle tersebut yang dinilai adalah kemampuan teknis
dan pertunjukan yang artistik. Dalam bagian artistik juga sangat penting agar
kuda dapat melakukan semua gerakannya seiring dengan irama musik.
b. Lompat Rintangan
Jumping kemungkinan telah dimulai sejak dahulu kala
karena kuda-kuda telah menjadi alat transportasi utama, (Mike dan
Diana,1998). Show Jumping atau lompat rintangan adalah olahraga khusus dan
terdapat banyak program kebugaran yang terdiri dari pendidikan dan
pengembangan/peningkatan teknik melompat kuda tersebut, program pelatihan
akan bervariasi tergantung pada umur dan kemampuan dari kuda tersebut (Pilliner,
1993). Tetapi lompat rintanganadalah suatu aktivitas atletik untuk
kedua-duanya yakni pengendara dan kuda; kebugaran, pelatihan dan
naluri/bakat/insting kompetitif menjadi faktor yang utama dimana akan
membuat perbedaan antara kegagalan dan sukses dalam rangka membentuk kuda atlit(Churchill,1982). Show-Jumping
banyak memerlukan konsentrasi berfikir dan strategi. Lompat rintangan
melengkapi pendidikan dasar si penunggang maupun seekor kuda tunggang, dan pada
umumnya latihan jumping dijadwalkan sebanyak dua atau tiga kali dari
enam hari latihan per minggu.
Tujuan utama adalah menyelesaikan course atau
lintasan yang telah ditentukan tanpa menjatuhkan rintangan, (http://www.equestrian-indonesia.org/showjumping.htm). Course
designer merancang lintasan yang berbeda untuk setiap pertandingan
showjumping, dan dapat menyesuaikan tingkat kesulitan lintasan dengan jenis
atau levelpertandingan. Panjang lintasan minimal 150m, maksimal 1200m.
Luas arena standar internasional adalah 90x45 meter, dengan alas/ groundpasir
atau rumput.
Jenis rintangan merupakan rintangan lompat tinggi
(misalnyavertical, upright, wall, dengan tinggi maksimal 1,60m), lompat
jauh (water jump, dengan lebar 2,5m sampai 4,5m) dan tinggi-jauh (oxer,
triple-bar, tinggi maksimal 1,60m, lebar maksimal 2m dan 2,20m), dan
rintangan-rintangan tersebut dapat berdiri sendiri atau digabungkan dalam
kombinasi yang terdiri dari dua sampai tiga rintangan dengan jarak diantara dua
rintangan minimal 6,5m dan maksimal duabelas meter.
Poles atau batang kayu/ dolken dengan panjang
3,5m atau 4m, berdiameter +/- 10cm, diletakkan pada cups yang
dipasang di sayap rintangan dan dapat jatuh apabila tersentuh kaki kuda.
Masing-masing rintangan diberikan nomor, dan arah
melompat ditandakan dengan dua bendera yang dipasang di atas sayap rintangan,
sebelah kanan merah dan sebelah kiri putih.
Peta lintasan atau course plan dipajang di
papan informasi pertandingan. Sebelum bertanding, para penunggang berbusana
pertandingan lengkap, terkadang bersama pelatih, menjalankan lintasan terlebih
dahulu. Hal tersebut membantu penunggangnya untuk menghafalkan urutan rintangan
dan mengukur jarak diantara rintangan guna menentukan strategi yang diambil
untuk menyelesaikan lintasan sebaik-baiknya. Walaupun lintasan dibangun dengan
ukuran metrik, yang dihitung pada saat walk the course adalah langkah
penunggang empat banding satu, yaitu empat langkah penunggang sama dengan satu
langkah atau stride kuda. Sebagai contoh: Dalam ukuran metrik jarak
diantara dua rintangan misalnya merupakan sepuluh sampai sebelas meter. Kalau
jarak yang diukur oleh penunggang adalah duabelas langkah, duabelas dikurangkan
empat langkah untuk landingsama dengan delapan langkah atau dua stride kuda.
Kebanyakan tipe kompetisi lompat rintangan
mengandalkan kecepatan – ketepatan – kegesitan: tim penunggang-kuda harus
mengatasi lintasan dengan 6 sampai 14 rintangan, dalam waktu tertentu, dengan
kesalahan minimal.
Peraturan utama lompat rintangan menurut datahttp://www.equestrian-indonesia.org/showjumping.htm:
Apabila seorang kompetitor melakukan kesalahan seperti menjatuhkan sebuah
rintangan, menolak atau melebihi waktu yang diperbolehkan ia dikenakan faults atau
angka kesalahan. Untuk setiap rintangan yang jatuh, dikenakan empat faults,
begitu pula kalau kuda menyentuh air diwater jump dan untuk penolakan.
Peserta hanya diperbolehkan menolak satu kali. Pada penolakan kedua, judge bunyikan
lonceng yang menandakan bahwa pesertanya eliminated atau tersisihkan
dari putaran yang sedang dijalankan. Eliminasi juga terjadi apabila penunggang
melompati rintangan sebelum lonceng menandakan start, apabila kuda enggan
melewati garis start atau finish, dan kalau melompati rintangan yang salah atau
dari arah yang salah. Jatuh dari kuda dan jatuh bersama kuda, juga menyebabkan
eliminasi.
Untuk melebihi waktu yang diperbolehkan (time allowed), faultsdiberikan
per satuan detik, tergantung tipe kompetisi. Waktu yang diperbolehkan
didapatkan dari perhitungan panjang lintasan denganspeed atau kecepatan
yang bervariasi antara 300m/ menit hingga 400m/ menit. Batas waktu (time limit)
adalah dua kalinya waktu yang diperbolehkan, dan melewatinya menyebabkan
eliminasi juga.
Pemenang kompetisi adalah ia yang memiliki angka
kesalahan yang paling kecil, dapat meyelesaikan lintasannya dalam waktu
tercepat atau mengumpulkan point tertinggi, tergantung daripada tipe kompetisi.
Salah satu jenis kompetisi lain adalah puissance atau adu lompat
tinggi, dimana tinggi rintangan dapat mencapai dua meter lebih, atau kompetisi
lompat jauh.
Apapun jenis kompetisinya, showjumping selalu
membuat para penonton tegang. Keaneka ragaman dan variasi kompetisi menambahkan
segi atraksi baik untuk kompetitor maupun penonton.
c. Trilomba
Menurut data http://www.equestrian-indonesia.org/eventing.htm, Eventing atau
Trilomba adalah pertandingan kombinasi yang mengandalkan pengalaman penunggang
dalam semua nomor berkuda. Kuda maupun penunggang, harus memiliki kecekatan dan
serba bisa. Pesertanya mengikuti pertandingan kombinasi yang terdiri dari tiga
tes: dressage, cross-country - sebagai tes utama - dan jumping, dengan kuda
yang sama selama pertandingan berlangsung. Hal itu tentunya membutuhkan
kerjasama antara kedua atlit yang saling percaya, dan juga pelatihan yang
terstruktur dan sistematis dalam semua disiplin tadi. Hanya pelatihan yang baik
dan teratur menghasilkan atlit yang mahir dalam semua disiplin dan berstamina
cukup untuk menghadapi pertandingan yang dinilai cukup berat ini.
Perhitungan trilomba dilakukan dalam sistem penalty
points. Artinya, para peserta berusaha mendapatkan angka penalti sesedikit
mungkin untuk mengungguli pertandingan yang pada umumnya berlangsung selama
satu (One Day Event) sampai tiga hari (Three Day Event). Tingkat kesulitan
dibagikan dalam level One Star hingga Four Star Eventing.
Setelah diawali dengan inspeksi kesehatan kuda oleh
dokter hewan, pertandingan Eventing selalu dimulai dengan Dressage Test.
Walaupun terlihat sangat mudah, dressage adalah bagian pertandingan yang cukup
sulit untuk para peserta eventing karena kuda yang sebenarnya dipersiapkan
secara maksimal untuk menghasilkan power and speed pada tes-tes
berikutnya, disini dituntut untuk tampil bagaikan penari, dengan gerakan yang
hanya dapat dihasilkan secara baik apabila kuda cukup lentur. Disisi lain tes
dressage tentunya memperlihatkan baik buruknya basic training, yaitu
sebaik apa kuda dan penunggang terlatih dalam disiplin dasar berkuda.
Tes tunggang serasi terdiri dari berberapa gerakan
yang telah ditentukan, yang dipertandingkan di sebuah arena yang berukuran
20x60 meter. Seperti dalam pertandingan tunggang serasi biasa, juri memberikan
nilai pada setiap gerakan yang dilakukan masing-masing peserta, dan good
points yang dikumpulkan itu dijadikan angka persentase. Hasil persentase
rata-rata yang diperoleh masing-masing peserta dikurangi dari angka 100,
kemudian dikali 1,5 untuk mendapatkan angka penalti yang akan dibawa oleh
pesertanya ke babak kedua, yaitu cross-country, yang biasanya dilakukan keesok
harinya.
Walaupun ketiga disiplin dalam trilomba sama
pentingnya, fokus pertandingan adalah tes kedua, babak cross country atau
rintangan alam, yang menguji kecepatan, keberanian, daya tahan dan kemampuan
melompat si kuda serta keberanian dan kemampuan si penunggang. Cross country
ini dinilai sebagai tes yang memiliki risiko tertinggi untuk kuda maupun
penunggang, dan keduanya biasanya akan mengenakan perlengkapan pelindung
seperti boots khusus untuk kuda dan body protector untuk
penunggang. Mengenal risiko yang dihadapi peserta itu, adalah hal yang biasanya
sangat menegangkan para penonton.
Menurut peraturan, test cross country terdiri dari
empat fase: Fase A dan C: Roads and Tracks, fase B: Steeple-chase,
dan fase D:Cross-country Obstacles. Pada One Day Event, fase B dan C tidak
diikutsertakan dan fase A juga optional. One Day Event boleh
diselenggarakan dalam 1, 2 atau 3 hari. Pada umumnya, cross country terdiri
dari 25-45 rintangan yang solid. Diantara rintangan biasanya juga ada salah
satu dimana kuda harus melompat kedalam air. Panjang lintasan adalah antara
2.500m-7.410m di lapangan alam yang bergelombang. Tergantung fasenya, kecepatan
kuda antara 220-690 meter per menit.
Apabila peserta melakukan kesalahan di rintangan, akan
dikenakan penalti sebagai berikut: Pada rintangan yang sama, penolakan pertama,
melewati atau melingkari rintangan: 20 penalti, kedua kali ditambah dengan 40
penalti, ketiga kali peserta tereliminasi. Pada fase D baru tersisihkan pada
penolakan keempat (di rintangan yang berbeda). Apabila penunggang jatuh dari
kuda pertama kali pada sebuah rintangan, dikenakan 65 penalti. Jatuh kedua
kalinya atau apabila kuda jatuh, mengakibatkan peserta tereliminasi.
Berdasarkan panjang lintasan dan kecepatan kuda yang
sudah ditentukan, juri mengkalkulasikan Optimum Time. Peserta yang
menyelesaikan tes dengan waktu yang paling mendekati optimum time adalah yang
terbaik, tetapi apabila telah melampaui optimum time, peserta akan dikenakan
penalti, tergantung fase yang mana, antara 0,4 dan 1 penalti per detik. Semua
penalti tadi akan dibawa bersama penalti dari hasil tes dressage ke babak
berikutnya, yaitu tes Jumping.
Tes Jumping berlangsung pada hari terakhir setelah
kembali diadakan inspeksi kesehatan hewan. Maksud daripada tes jumping tersebut
adalah membuktikan bahwa setelah melalui tes pertama dan kedua, kuda masih
cukup gemulai dan bertenaga untuk melompati sebuah lintasan rintangan dengan
panjang 350-600m berisi 10-16 rintangan show jumping dengan kecepatan 350-375
meter per menit. Peraturan yang berlaku adalah peraturan Showjumping, kecuali
bahwa dalam eventing peserta boleh jatuh dari kuda satu kali yang akan dikenakan
8 penalti.
Setelah melalui semua tes diatas, peserta yang
berhasil mendapatkan penalti paling kecil menjadi pemenang.
d. Endurance
Menurut data (http://www.equestrian-indonesia.org/endurance.htm), Endurance
merupakan kompetisi melawan waktu untuk menguji kecepatan dan kemampuan
ketahanan kuda, yang sekaligus diharapkan dapat menunjukkan pengetahuan si
penunggang mengenai kecepatan dan penggunaan kudanya melalui lintas alam.
Prestasi kuda yang ditunjukkan melalui berbagai macam permukaan dan halangan
alam sangatlah penting untuk menentukan kepandaian berkuda si penunggang dan
sikap kudanya sendiri.
Sebuah kompetisi terdiri dari berberapa tahap. Setelah
setiap tahap (pada prinsipnya setiap 40 km), diadakan sebuah inspeksi kesehatan
hewan yang diatur sebagai gerbang veteriner yang menuju kawasan pemberhentian
yang diambil waktunya (waktunya terhitung dari saat detak jantung kuda
menunjukkan 64 detak/ menit; sampai saat itu waktu dianggap sebagai waktu menunggang).
Tahap-tahap endurance dapat berlangsung hingga dua hari atau lebih.
Perjalanannya tidak boleh mengandung lebih dari 10
persen permukaan jalanan keras. Bagian yang lebih sulit sebaiknya tidak
terdapat di bagian akhir kompetisi. Untuk kompetisi yang berlangsung lebih dari
satu hari, rata-rata jarak minimum untuk pertandingan internasional biasa
adalah 80 km dan dalam pertandingan resmi 100 km. Untuk kejuaraan satu hari,
jaraknya biasanya 160 km dengan waktu tempuh sekitar sepuluh sampai duabelas jam.
Endurance race adalah semacam Pacuan Marathon Berkuda
dimana seorang penunggang bersama seekor kuda menempuh jarak jauh (antara 20 km
“Baby Race” sampai 160 km/ hari atau 2 hari à 100 km) dalam waktu
sesingkat-singkatnya. Adapun titik pemberhentian yang ditentukan untuk minum
(Water Point), inspeksi dan istirahat kuda. Peserta dibantu oleh tim pendukung
atau Crew yang terdiri dari dua orang yang mengurusi kuda dan satu pengemudi
kendaraan pendukung.
Yang penting adalah menjaga kondisi kuda agar ia dapat
lulus pemeriksaan tim dokter hewan dimana detak jantung kuda tidak boleh
melampaui 64 detak/ menit, kuda tidak boleh pincang, dehidrasi, anemia, kulit
lecet/ sensitive dan kram atau kolik. Kuda yang menunjukkan tanda kelelahan dan
kiranya kesehatannya terancam apabila ia melanjutkan pacuan, dieliminasi oleh
tim veteriner dan keputusan mereka tidak dapat diganggu gugat.
Peserta yang menyelesaikan pacuan dalam waktu
tersingkat dan dengan kuda berkondisi baik hingga 2 jam setelah pacuan berhenti
dinyatakan menang. Endurance dinilai sangat cocok untuk masyarakat berkuda
Indonesia karena beberapa faktor, antara lain:
· relatif rendah biaya dan membutuhkan fasilitas
minim
· kuda apa saja dapat mengikutinya asal sehat
· kuda Indonesia, terutama asal Padang sangat cocok
untuk jenis olahraga ini yang menuntut ketahanan dan stamina kuda yang baik
· tidak memerlukan kuda bersilsilah, peralatan
canggih atau mahal
· kemampuan ekuestrian tidaklah harus terlalu
tinggi sehingga pemula segala umur pun dapat ikut serta asalkan ia dapat
mengontrol kuda
· kita berpeluang besar untuk mendapatkan tempat
di peta berkuda internasional
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Pacuan_kuda
http://duniakuda.blogspot.co.id/2008/04/olag-raga-berkuda.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar