PENGETAHUAN
UMUM STRUKTUR BETON BERTULANG
Disusun oleh:
Ashar Muallidiniyah (11315087)
Dosen
Pembimbing:
Diyanti, ST. MT.
FAKULTAS
TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS
GUNADARMA
TAHUN 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya
atas kesempatan yang diberikan kepada saya, sehingga pada kesempatan ini saya
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah yang berjudul “Pengetahuan
Umum Struktur Beton Bertulang“ dapat terselesaikan dengan baik.
Teknik struktur adalah bidang ilmu teknik yang berhubungan
dengan analisis dan desain struktur yang menyokong atau menahan beban.
Teknik struktur biasanya berada di dalam teknk sipil,
namun juga bisa terpisah.
Dalam
penyusunan makalah ini, saya menyadari sepenuhnya bahwa selesainya makalah ini
tidak terlepas dari dukungan, semangat, serta bimbingan, baik bersifat moril
maupun materil. Oleh karena-Nya, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih
antara lain kepada
1.
Prof. Dr E. S. Margianti, SE., MM selaku Rektor Universitas Gunadarma.
2.
Dr. Heri Suprapto, MT. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Universitas Gunadarma.
3.
Dr. Relly Andayani, ST., MT. selaku Sekretaris Jurusan Teknik Sipil Universitas
Gunadarma.
4.
Diyanti, ST., MT. selaku Dosen Penulisan dan Presentasi Jurusan Teknik Sipil
Universitas Gunadarma.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari
kata sempurna. Untuk itu kritik serta saran diharapkan penulis dari khalayak
pembaca. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi khalayak pembaca.
Depok, 9 November 2018
ABSTRACT
Building structures generally consist of a lower
structure and an upper structure. The above structure consists of columns,
plates, beam walls and stairs, each of which has a very important role. The
components of the structure consist of columns, beams, plates, stairs. Beams
are parts of the structure used as ground floor and binder. For a fairly large
tensile force on fibers, part of the bottom, it is necessary to give
reinforcing steel called "reinforced concrete". Function and function
of pressing and bolting reinforcing steel to prevent rusting. The main function
of reinforcing steel consists of tensile strength (although it is also strong
against compressive force) and prevents concrete from being made to widen.
Keywords : reinforced concrete, structure.
ABSTRAK
Struktur bangunan pada umumnya
terdiri dari struktur bawah dan struktur atas. Struktur atas ini terdiri atas
kolom, pelat, balok dinding geser dan tangga, yang masing-masing mempunyai
peran yang sangat penting. Komponen-komponen struktur bagian atas terdiri dari
kolom, balok, pelat, tangga. Balok merupakan bagian struktur yang digunakan
sebagai dudukan lantai dan pengikat kolom lantai atas. Untuk menahan gaya tarik yang cukup besar pada serat-serat balok bagian
tepi bawah, maka perlu diberi baja tulangan sehingga disebut dengan “beton
bertulang”. Fungsi utama beton
terdiri dari, menahan beban/gaya tekan dan menutup baja tulangan agar
tidak berkarat. Fungsi utama baja
tulangan terdiri dari menahan gaya tarik (meskipun kuat juga terhadap
gaya tekan) dan mencegah retak beton agar tidak melebar.
Kata kunci : beton
bertulang, struktur.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................ i
ABSTRACT
....................................................................................................... ii
ABSTRAK ....................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... v
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
1.3 Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB 2 PEMBAHASAN .................................................................................. 3
2.1 Pengertian Struktur
Atas (Upper Structure) ................................................ 3
2.2 Komponen-Komponen Struktur Gedung
Bagian Atas ................................ 3
2.3 Balok Tanpa Tulangan ................................................................................ 13
2.4 Balok dengan Tulangan ............................................................................... 14
2.5 Fungsi Utama Beton dan Tulangan ............................................................. 14
2.6 Faktor Keamanan ......................................................................................... 15
2.7 Faktor Beban Luar/ Faktor Beban ............................................................... 15
2.8 Faktor reduksi .............................................................................................. 16
2.9 Kekuatan beton ............................................................................................ 16
2.10 Prinsip hitungan beton bertulang ............................................................... 18
BAB 3 PENUTUP ............................................................................................ 19
3.1
Kesimpulan .................................................................................................. 19
3.2
Saran ............................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... .
20
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kolom (a), (b), dan (c) ........................................................................ 4
Gambar 2 Jenis-Jenis Kolom ............................................................................... 7
Gambar 3 Balok ................................................................................................... 8
Gambar 4 Plat Kayu ............................................................................................. 10
Gambar 5 Plat Lantai Beton ................................................................................. 11
Gambar 6 Balok Tanpa Tulangan ........................................................................ 13
Gambar 7 Balok Beton dengan Tulangan ............................................................ 14
Gambar 8 Hitungan Struktur Beton Bertulang .................................................... 18
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Insinyur
teknik struktur biasanya terlibat dalam desain bangunan dan struktur
non-bangunan yang besar, namun mereka juga bisa
terlibat dalam desain mesin,
peralatan medis,
kendaraan, atau benda lainnya yang terkait
dengan integritas struktural yang terkait dengan fungsi atau keamanan benda
tersebut. Insinyur teknik struktur harus memastikan desain mereka sesuai dengan
kriteria desain, berdasar pada keamanan atau performa bangunan.
Teori teknik
struktur berdasar pada hukum fisika dan pengetahuan empiris mengenai performa struktur berdasarkan
material dan geometri tertentu. Teknik struktur disarankan membuat desain yang
sesederhana mungkin dengan tidak meninggalkan tujuan awal dibuatnya struktur,
terutama jika terkait dengan efisiensi pendanaan atau keterbatasan ruang.Teknik struktur adalah bidang ilmu teknik yang berhubungan
dengan analisis dan desain struktur yang menyokong atau menahan beban.
Teknik struktur biasanya berada di dalam teknk sipil,
namun juga bisa terpisah.
Struktur
bangunan pada umumnya terdiri dari struktur bawah dan struktur atas. Struktur
bawah yang dimaksud adalah pondasi dan struktur bangunan yang berada di bawah
permukaan tanah, sedangkan yang dimaksud dengan struktur atas adalah struktur
bangunan yang berada di atas permukaan tanah seperti kolom, balok, plat,
tangga. Setiap komponen tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda di dalam
sebuah struktur.
Pada
perencanaan struktur atas ini harus mengacu pada peraturan atau pedoman standar
yang mengatur perencanaan dan pelaksanaan bangunan beton bertulang, yaitu
Standar Tata Cara Penghitungan Struktur Beton nomor: SNI 2847:2013, Peraturan
Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983, SNI 03-1726-2012 – Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non-Bangunan Gedung, dan
lain-lain (Istimawan, 1999).
Proses desain suatu struktur secara garis
besar dilakukan melalui dua tahapan : (1) menentukan gaya-gaya dalam yang
bekerja pada struktur tersebut dengan menggunakan metode-metode analisis
struktur yang tepat dan (2) menentukan dimensi atau ukuran dari tiap elemen
struktur secara ekonomis dengan mempertimbangkan keamanan, stabilitas,
kemampulayanan, serta fungsi dari struktur tersebut. Beton adalah salah satu
jenis material yang paling sering digunakan dalam pembuatan berbagai jenis
struktur.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah makalah ini :
1. Apa
yang di maksud dengan struktur suatu gedung?
2. Sebutkan
komponen-komponen struktur atas?
3. Apa
perbedaan beton bertulang dan beton tanpa tulangan?
4. Bagaimana
kriteria struktur beton bertulang dikatakan aman?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan makalah ini :
1. Mendeskripsikan maksud dari struktur
2. Menyebutkan komponen-komponen struktur
atas
3. Menyebutkan perbedaan beton bertulang dan
beton tanpa tulangan
4. Mendeskripsikan kriteria struktur beton
bertulang yang dikatakan aman
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Struktur Atas (Upper Structure)
Struktur atas suatu gedung adalah seluruh bagian struktur gedung yang
berada di atas muka tanah (SNI 2002). Struktur atas ini terdiri atas kolom,
pelat, balok dinding geser dan tangga, yang masing-masing mempunyai peran yang
sangat penting.
Beton sendiri adalah material konstruksi yang
diperoleh dari pencampuran pasir, kerikil/ batu pecah, semen serta air.
Terkadang beberapa macam bahan tambahan dicampurkan ke dalam campuran tersebut
dengan tujuan memperbaiki sifat-sifat dari beton, yakni antara lain untuk
meningkatkan workability, durability, dan serta waktu pengerasan
beton.
Campuran
beton tersebut seiring dengan bertambahnya waktu akan menjadi keras seperti
batuan, dan memili kuat tekan yang tinggi namun kuat tariknya rendah. Beton bertulang
adalah kombinasi dari beton serta tulangan baja, yang bekerja secara
bersama-sama untuk memikul beban yang ada. Tulangan baja akan memberikan kuat
Tarik yang tidak dimiliki oleh beton. Selain itu tulangan baja juga mampu
memikul beban tekan, seperti digunakan pada elemen kolom beton.
2.2 Komponen-Komponen
Struktur Gedung Bagian Atas
2.2.1 Kolom
Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan
penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan
lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur
(Sudarmoko, 1996). Fungsi kolom adalah sebagai
penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila diumpamakan, kolom itu seperti
rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan berdiri. Kolom termasuk
struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban
hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom berfungsi
sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh.
SK SNI
T-15-1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas
utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak
ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral.
Struktur
dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan gabungan antara
material yang tahan tarikan dan tekanan. Besi adalah material yang tahan
tarikan, sedangkan beton adalah material yang tahan tekanan. Gabungan kedua
material ini dalam struktur beton memungkinkan kolom atau bagian struktural
lain seperti sloof dan balok bisa
menahan gaya tekan dan gaya tarik pada bangunan.
2.2.1.1. Prinsip Desain Kolom
Elemen struktur kolom yang mempunyai nilai
perbandingan antara panjang dan dimensi penampang melintangnya relatif kecil
disebut kolom pendek. Kapasitas pikul-beban kolom pendek tidak tergantung pada
panjang kolom dan bila mengalami beban berlebihan, maka kolom pendek pada
umumnya akan gagal karena hancurnya material. Dengan demikian, kapasitas
pikul-beban batas tergantung pada kekuatan material yang digunakan. Semakin
panjang suatu elemen tekan, proporsi relatif elemen akan berubah hingga
mencapai keadaan yang disebut elemen langsing. Perilaku elemen langsing sangat
berbeda dengan elemen tekan pendek. Perilaku elemen tekan panjang terhadap
beban tekan adalah apabila bebannya kecil, elemen masih dapat mempertahankan
bentuk liniernya, begitu pula apabila bebannya bertambah. Pada saat beban
mencapai nilai tertentu, elemen tersebut tiba-tiba tidak stabil, dan berubah
bentuk menjadi seperti tergambar.
Hal inilah yang dibuat fenomena tekuk (buckling) apabila suatu elemen struktur
(dalam hal ini adalah kolom) telah menekuk, maka kolom tersebut tidak mempunyai
kemampuan lagi untuk menerima beban tambahan. Sedikit saja penambahan beban
akan menyebabkan elemen struktur tersebut runtuh. Dengan demikian, kapasitas
pikul-beban untuk elemen struktur kolom itu adalah besar beban yang menyebabkan
kolom tersebut mengalami tekuk awal. Struktur yang sudah mengalami tekuk tidak
mempunyai kemampuan layan lagi. Fenomena tekuk adalah suatu ragam kegagalan
yang diakibatkan oleh ketidakstabilan suatu elemen struktur yang dipengaruhi
oleh aksi beban. Kegagalan yang diakibatkan oleh ketidakstabilan dapat terjadi
pada berbagai material. Pada saat tekuk terjadi, taraf gaya internal bisa sangat
rendah. Fenomena tekuk berkaitan dengan kekakuan elemen struktur. Suatu elemen
yang mempunyai kekakuan kecil lebih mudah mengalami tekuk dibandingkan dengan
yang mempunyai kekakuan besar. Semakin panjang suatu elemen struktur, semakin
kecil kekakuannya.
Banyak faktor yang mempengaruhi beban tekuk (Pcr) pada
suatu elemen struktur tekan panjang. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai
berikut :
1.
Panjang
Kolom
Pada umumnya, kapasitas pikul-beban kolom berbanding
terbalik dengan kuadrat panjang elemennya. Selain itu, faktor lain yang
menentukan besar beban tekuk adalah yang berhubungan dengan karakteristik
kekakuan elemen struktur (jenis material, bentuk, dan ukuran penampang).
2.
Kekakuan
Kekakuan elemen struktur sangat dipengaruhi oleh
banyaknya material dan distribusinya. Pada elemen struktur persegi panjang,
elemen struktur akan selalu menekuk pada arah seperti yang diilustrasikan pada
di bawah bagian (a). Namun bentuk berpenampang simetris (misalnya bujursangkar
atau lingkaran) tidak mempunyai arah tekuk khusus seperti penampang segiempat.
Ukuran distribusi material (bentuk dan ukuran penampang) dalam hal ini pada
umumnya dapat dinyatakan dengan momen inersia (I).
3.
Kondisi
ujung elemen struktur
Apabila ujung-ujung kolom bebas berotasi, kolom
tersebut mempunyai kemampuan pikul-beban lebih kecil dibandingkan dengan kolom
sama yang ujung-ujungnya dijepit. Adanya tahanan ujung menambah kekakuan
sehingga juga meningkatkan kestabilan yang mencegah tekuk. Mengekang
(menggunakan bracing) suatu kolom
pada suatu arah juga meningkatkan kekakuan. Fenomena tekuk pada umumnya
menyebabkan terjadinya pengurangan kapasitas pikul-beban elemen tekan. Beban
maksimum yang dapat dipikul kolom pendek ditentukan oleh hancurnya material,
bukan tekuk.
Untuk kolom pada bangunan sederhana bentuk kolom ada
dua jenis yaitu kolom utama dan kolom praktis.
a. Kolom
Utama
Yang dimaksud dengan kolom utama adalah kolom yang
fungsi utamanya menyanggah beban utama yang berada diatasnya. Untuk rumah
tinggal disarankan jarak kolom utama adalah 3,5 m, agar dimensi balok untuk
menompang lantai tidak tidak begitu besar, dan apabila jarak antara kolom
dibuat lebih dari 3,5 meter, maka struktur bangunan harus dihitung. Sedangkan dimensi
kolom utama untuk bangunan rumah tinggal lantai 2 biasanya dipakai ukuran
20/20, dengan tulangan pokok 8D12 mm, dan begel d 8-10 cm (8D12 maksudnya
jumlah besi beton diameter 12 mm 8 buah, 8 – 10 cm maksudnya begel diameter 8
dengan jarak 10 cm).
b. Kolom Praktis
Adalah kolom yang berpungsi membantu kolom utama dan
juga sebagai pengikat dinding agardinding stabil, jarak kolom maksimum 3,5 meter
atau pada pertemuan pasangan bata, (sudut-sudut). Dimensi kolom praktis 15/15 dengantulangan
beton 4D10 begel d 8-20.
Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan
dipohusodo, 1994) ada tiga jenis kolom beton bertulang yaitu :
1. Kolom menggunakan pengikat
sengkang lateral. Kolom ini merupakan kolom brton yang ditulangi dengan
batang tulangan pokok memanjang, yang pada jarak spasi tertentu diikat dengan
pengikat sengkang ke arah lateral. Tulangan ini berfungsi untuk memegang
tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh pada tempatnya. Terlihat dalam gambar
2.
2. Kolom menggunakan pengikat
spiral. Bentuknya sama dengan yang pertama hanya saja sebagai pengikat
tulangan pokok memanjang adalah tulangan spiral yang dililitkan keliling
membentuk heliks menerus di sepanjang kolom. Fungsi dari tulangan spiral adalah
memberi kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup besar sebelum runtuh,
sehingga mampu mencegah terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum proses
redistribusi momen dan tegangan terwujud. Seperti pada gambar 2.(b).
3. Struktur kolom komposit seperti tampak pada gambar 2.
Merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah memanjang dengan
gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa diberi batang tulangan pokok
memanjang.
2.2.2.
Balok
Balok
juga merupakan salah satu pekerjaan beton bertulang. Balok merupakan bagian
struktur yang digunakan sebagai dudukan lantai dan pengikat kolom lantai atas. Fungsinya adalah sebagai rangka penguat
horizontal bangunan akan beban-beban.
Persyaratan balok menurut PBBI
1971.N.I – 2 hal. 91 sebagai berikut :
a.
Lebar badan balok tidak
boleh diambil kurang dari 1/50 kali bentang bersih. Tinggi balok harus dipilih
sedemikian rupa hingga dengan lebar badan yang dipilih.
b.
Untuk semua jenis baja
tulangan, diameter (diameter pengenal) batang tulangan untuk balok tidak boleh
diambil kurang dari 12 mm. Sedapat mungkin harus dihindarkan pemasangan
tulangan balok dalam lebih dari 2 lapis, kecuali pada
keadaan-keadaan khusus.
c.
Tulangan tarik harus
disebar merata didaerah tarik maksimum dari penampang.
d.
Pada balok-balok yang
lebih tinggi dari 90 cm pada bidang-bidang sampingnya harus dipasang tulangan
samping dengan luas minimum 10% dari luas tulangan tarik pokok. Diameter batang
tulangan tersebut tidak boleh diambil kurang dari 8 mm pada jenis baja lunak
dan 6 mm pada jenis baja keras.
e.
Pada balok senantiasa
harus dipasang sengkang. Jarak sengkang tidak boleh diambil lebih dari 30 cm,
sedangkan dibagian balok sengkang-sengkang bekerja sebagai tulangan geser. Atau
jarak sengkang tersebut tidak boleh diambil lebih dari 2/3 dari tinggi balok.
Diameter batang sengkang tidak boleh diambil kurang dari 6 mm pada jenis baja
lunak dan 5 mm pada jenis baja keras.
2.2.3 Plat Lantai
Plat
lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung, jadi merupakan
lantai tingkat. Plat lantai ini didukung oleh balok-balok yang bertumpu pada
kolom-kolom bangunan.
Ketebalan plat
lantai ditentukan oleh :
a. Besar
lendutan yang diijinkan
b.
Lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung
c. Bahan
konstruksi dan plat lantai
Berdasarkan
aksi strukturalnya, pelat dibedakan menjadi empat (Szilard, 1974)
a. Pelat
kaku
Pelat kaku merupakan
pelat tipis yang memilikki ketegaran lentur (flexural rigidity), dan memikul beban dengan aksi dua dimensi,
terutama dengan momen dalam (lentur dan puntir) dan gaya geser transversal,
yang umumnya sama dengan balok. Pelat yang dimaksud dalam bidang teknik adalah
pelat kaku, kecuali jika dinyatakan lain.
b. Membran
Membran merupakan pelat tipis tanpa
ketegaran lentur dan memikul beban lateral dengan gaya geser aksial dan gaya
geser terpusat. Aksi pemikul beban ini dapat didekati dengan jaringan kabel
yang tegang karena ketebalannya yang sangat tipis membuat daya tahan momennya
dapat diabaikan.
c.
Pelat flexibel
Pelat flexibel merupakan gabungan pelat kaku
dan membran dan memikul beban luar dengan gabungan aksi momen dalam, gaya geser
transversal dan gaya geser terpusat,
serta gaya aksial. Struktur ini sering dipakai dalam industri ruang angkasa
karena perbandingan berat dengan bebannya menguntungkan.
d. Pelat
tebal
Pelat
tebal merupakan pelat yang kondisi tegangan dalamnya menyerupai kondisi kontinu
tiga dimensi
Bahan untuk Plat lantai
dapat dibuat dari :
a. Plat
Lantai Kayu
Ukuran Lebar papan umumnya 20-30cm. Tebal papan ukuran
2-3cm, dengan jarak balok-balok pendukung antara 60-80cm. Ukuran balok berkisar
antara 8/12, 8/14, 10/14. Untuk bentangan 3-3,5cm. Balok-balok kayu ini dapat
diletakkan diatas pasangan bata 1 batu atau ditopang oleh balok beton. Bahan
kayu yang dipakai harus mempunyai berat jenis antara 0,6-0,8 (t/m3) atau dari
jenis kayu kelas II.
b. Plat
Lantai Beton
Dipasang tulangan baja pada kedua arah, tulangan
silang, untuk menahan momen tarik dan lenturan. Untuk mendapatkan hubungan
jepit-jepit, tulangan plat lantai harus dikaitkan kuat pada tulangan balok
penumpu. Perencanaan dan hitungan plat lantai dan beton bertulang, harus
mengikuti persyaratan yang tercantum dalam buku SNI I Beton 1991.
Beberapa
persyaratan tersebut antara lain :
a. Plat
lantai harus mempunyai tebal sekurang-kurangnya 12 cm, sedangkan untuk plat
atap sekurang-kurangnya 7 cm.
b.
Harus diberi tulangan silang dengan diameter minimum 8 mm dari baja lunak atau
baja sedang.
c. Pada
plat lantai yang tebalnya > 25cm harus dipasang tulangan rangkap atas bawah.
d.
Jarak tulangan pokok yang sejajar tidak kurang dari 2,5 cm dan tidak lebih dari
20 cm atau dua kalitebal plat lantai, dipilih yang terkecil.
e. Semua
tulangan plat harus terbungkus lapisan beton setebal minimum 1cm, untuk
melindungi bajadari karat, korosi atau kebakaran.
f.
Bahan beton untuk plat harus dibuat dari campuran 1 semen : 2 pasir : 3kerikil
+ air, bila untuk lapiskedap air dibuat dari campuran 1 semen : 1 ½ pasir : 2 ½
kerikil + air secukupnya.
Plat-lantai beton dapat dibuat menerus/menjadi satu
dengan plat luifel dengan balok penumpu sebagai pembatasnya.
c. Plat
Lantai Yumen (Kayu Semen)
Plat lantai kayu semen ini dibuat dari potongan kayu
apa saja dan kecil-kecil yang kemudian dicampur semenyang berukuran 90 cm x 80 cm.
plat lantai yumen ini masih jarang digunakan karena termasuk bahan bangunan
yang baru dan yumen ini buatan dari Pabrik Semen Gresik.
Cara Pemasangan Yumen :
Sebelum
dipasangi yumen, dack yang akan dibuat dipasangi kayu bangkirai 5/7 dengan
panjang yangsudah diatur dengan jarak 40cm. Kayu yang berjejer tersebut
ditumpangi ring balk dan dicor, setelah itu lembaran yumen dipasang berjejer
rapat diatas kayu tersebut lalu dibaut. Kemudian diatas yumen baru diberi rabat
beton (1pc : 2ps : 3kr), setelah kering dipasang keramik, kalau dilihat dari
bawah, kayu tersebut tampak seperti utuh. Untuk itu kayu tersebut bisa dipakai
sebagai kayu ekspos (bisa dipolitur).
2.2.3.1. Sistem
Pelat Satu Arah
Pada
bangunan bangunan beton bertulang, suatu jenis lantai yang umum dan dasar
adalah tipe konstruksi pelat balok-balok induk (gelagar). Dimana permukaan
pelat itu dibatasi oleh dua balok yang bersebelahan pada sisi dan dua gelagar
pada kedua ujung. Pelat satu arah adalah pelat yang panjangnya dua kali atau
lebih besar dari pada lebarnya, maka hampir semua beban lantai menuju ke
balok-balok dan sebagian kecil saja yang akan menyakur secara langsung ke
gelagar.
Kondisi pelat ini dapat direncanakan sebagai pelat
satu arah dengan tulangan utama sejajar dengan gelagar atau sisi pendek dan
tulangan susut atau suhu sejajar dengan balok-balok atau sisi panjangnya.
Permukaan yang melendut dari sistem pelat satu arah mempunyai kelengkungan
tunggal. Sistem pelat satu arah dapat terjadi pada pelat tunggal maupun
menerus, asal perbandingan panjang bentang kedua sisi memenuhi.
2.2.3.2. Sistem
Pelat Dua Arah
Sistem
pelat dua arah dapat terjadi pada pelat tunggal maupun menerus, asal
perbandingan panjang bentang kedua sisi memenuhi. Persyaratan jenis pelat
lantai dua arah jika perbandingan dari bentang panjang terhadap bentang pendek
kurang dari dua
Beban pelat lantai pada jenis ini disalurkan ke empat
sisi pelat atau ke empat balok pendukung, akibatnya tulangan utama pelat
diperlukan pada kedua arah sisi pelat. Permukaan lendutan pelat mempunyai
kelengkungan ganda.
2.2.4 Tangga
Tangga
adalah sebuah konstruksi yang dirancang untuk menghubungi dua tingkat vertikal
yang memiliki jarak satu sama lain.
2.3 Balok
tanpa tulangan
Kita tau sifat beton yaitu kuat terhadap gaya tekan tetapi lemah
terhadap gaya tarik. Oleh karena itu, beton dapat mengalami retak jika beban
yang dipikulnya menimbulkan tegangan tarik yang melebihi kuat tariknya.
Jika
sebuah balok beton (tanpa tulangan) ditumpu oleh tumpuan sederhana (sendi dan
rol), dan di atas balok tersebut bekerja beban terpusat P serta beban merata q,
maka akan timbul momen luar sehingga balok akan melengkung ke bawah.
Pada balok yang melengkung ke
bawah akibat beban luar ini pada dasarnya ditahan oleh kopel gaya-gaya dalam
yang berupa tegangan tekan dan tarik. Jadi pada serat-serat balok bagian tepi
atas akan menahan tegangan tekan, dan semakin ke bawah tegangan tersebut akan
semakin kecil. Sebaliknya, pada serat-serat bagian tepi bawah akan menahan
tegangan tarik, dan semakin ke atas tegangan tariknya akan semakin kecil pula.
Pada tengah bentang (garis netral), serat-serat beton tidak
mengalami tegangan sama sekali (tegangan tekan dan tarik = 0).
Jika beban diatas balok terlalu besar maka garis
netral bagian bawah akan mengalami tegangan tarik cukup besar yang dapat
mengakibatkan retak pada beton pada bagian bawah. Keadaan ini terjadi terutama
pada daerah beton yang momennya besar, yaitu pada lapangan/tengah bentang.
2.4 Balok Beton dengan tulangan
Untuk menahan gaya tarik yang
cukup besar pada serat-serat balok bagian tepi bawah, maka perlu diberi baja
tulangan sehingga disebut dengan “beton bertulang”. Pada balok beton bertulang
ini, tulangan ditanam sedemikian rupa, sehingga gaya tarik yang dibutuhkan
untuk menahan momen pada penampang retak dapat ditahan oleh baja tulangan.
Karena
sifat beton yang tidak kuat tehadap tarik, maka pada gambar di atas, tampak
bahwa balok yang menahan tarik (di bawah garis netral) akan ditahan tulangan,
sedangkan bagian menahan tekan (di bagian atas garis netral) tetap ditahan oleh
beton.
2.5 Fungsi utama beton dan tulangan
Dari uraian di atas dapat
dipahami, bahwa baik beton maupun baja-tulangan pada struktur beton bertulang
tersebut mempunyai fungsi atau tugas pokok yang berbeda sesuai dengan sifat
bahan yang bersangkutan. Fungsi utama beton yaitu untuk
Fungsi utama beton
- Menahan beban/gaya tekan
- Menutup baja tulangan agar tidak berkarat
Fungsi utama baja tulangan
- Menahan gaya tarik (meskipun kuat juga terhadap gaya tekan)
- Mencegah retak beton agar tidak melebar
2.6 Faktor
keamanan
Agar dapat terjamin bahwa suatu
struktur yang direncankan mampu menahan beban yang bekerja, maka pada
perencanaan struktur digunakan faktor keamanan tertentu.Faktor keamanan ini
tersdiri dari 2 jenis , yaitu :
1.
Faktor keamanan yang bekerja pada beban luar yang
bekerja pada struktur, disebut faktor beban.
2.
Faktor keamanan yang berkaitan dengan kekuatan
struktur (gaya dalam), disebut faktor reduksi kekuatan.
2.7 Faktor beban luar/faktor beban
Besar faktor beban yang diberikan untuk
masing-masing beban yang bekerja pada suatu penampang struktur akan
berbeda-beda tergantung dari kombinasi beban yang bersangkutan. Menurut pasal
11.2 SNI 03-2847-2002, agar supaya struktur dan komponen struktur memenuhi
syarat dan layak pakai terhadap bermacam-macam kombinasi beban, maka harus
dipenuhi ketentuan kombinasi-kombinasi beban berfaktor sbb :
1.
Jika struktur atau komponen hanya menahan beban
mati D (dead) saja maka dirumuskan : U = 1,4*D
2.
Jika berupa kombinasi beban mati D dan beban hidup
L (live), maka dirumuskan : U = 1,2*D + 1,6*L + 0,5 ( A atau R )
3.
Jika berupa kombinasi beban mati D,beban hidup L,
dan beban angin W, maka diambil pengaruh yang besar dari 2 macam rumus berikut
: U = 1,2*D + 1,0*L + 1,6*W + 0,5 ( A atau R ) dan rumus satunya : U =
0,9*D + 1,6*W
4.
Jika pengaruh beban gempa E diperhitungkan, maka
diambil yang besar dari dua macam rumus berikut : U = 0,9*D + 1*E
Keterangan :
U = Kombinasi beban terfaktor, kN, kN/m’ atau kNm
D = Beban mati (Dead load), kN, kN/m’ atau kNm
L = Beban hidup (Life load), kN, kN/m’ atau kNm
A = Beban hidup atap kN, kN/m’ atau kNm
R = Beban air hujan, kN, kN/m’ atau kNm
W = Beban angin (Wind load) ,kN, kN/m’ atau kNm
E = Beban gempa (Earth quake load), kN, kN/m’ atau
kNm, ditetapkan berdasarkan ketentuan SNI 03-1726-1989-F, Tatacara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung, atau penggantinya.
Untuk kombinasi beban terfaktor lainnya pada pasal
berikut :
- Pasal 11.2.4 SNI 03-2847-2002, untuk kombinasi dengan tanah lateral
- Pasal 11.2.5 SNI 03-2847-2002, untuk kombinasi dengan tekanan hidraulik
- Pasal 11.2.6 SNI 03-2847-2002, untuk pengaruh beban kejut
- Pasal 11.2.7 SNI 03-2847-2002, untuk pengaruh suhu (Delta T), rangkak, susut, settlement.
2.8 Faktor reduksi kekuatan
Ketidakpastian kekuatan bahan terhadap pembebanan
pada komponen struktur dianggap sebagai faktor reduksi kekuatan, yang nilainya
ditentukan menurut pasal 11.3 SNI 03-2847-2002 sebagai berikut :
1.
Struktur lentur tanpa beban aksial (misalnya :
balok), faktor reduksi = 0,8
2.
Beban aksial dan beban aksial lentur
·
aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur : 0,8
·
aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur
1.
Komponen struktur dengan tulangan spiral atau
sengkang ikat : 0,7
2.
Komponen struktur dengan tulangan sengkang biasa :
0,65
3. Geser dan torsi : 0,75
4. Tumpuan pada beton, : 0,65
2.9 Kekuatan beton bertulang
1.
Jenis kekuatan
Menurut SNI 03-2847-2002,
pada perhitungan struktur beton bertulang, ada beberapa istilah untuk
menyatakan kekuatan suatu penampang sebagai berikut
1.
Kuat nominal (pasal 3.28)
2.
Kuat rencana (pasal 3.30)
3.
Kuat perlu
(pasal 3.29)
Kuat
nominal (Rn) diartikan sebagai kekuatan suatu komponen struktur penampang yang
dihitung berdasarkan ketentuan dan asumsi metode perencanaan sebelum dikalikan
dengan nilai faktor reduksi kekuatan yang sesuai. Pada penampang beton
bertulang , nilai kuat nominal bergantung pada:
·
dimensi penampang,
·
jumlah dan letak tulangan
·
letak tulangan
·
mutu beton dan baja tulangan
Jadi pada dasarnya kuat nominal
ini adalah hasil hitungan kekuatan yang sebenarnya dari keadaan struktur beton
bertulang pada keadaan normal. Kuat nominal ini biasanya ditulis dengan
simbol-simbol Mn, Vn, Tn, dan Pn dengan subscript n menunjukkan bahwa
nilai-nilai
M = Momen
V = Gaya geser
T = Torsi (momen puntir)
P = Gaya aksial (diperoleh dari beban nominal suatu
struktur atau komponen struktur)
Kuat
rencana (Rr), diartikan sebagai kekuatan suatu komponen struktur atau penampang yang
diperoleh dari hasil perkalian antara kuat nominal Rn dan faktor reduksi kekuatan.
Kuat rencana ini juga dapat ditulis dengan simbol Mr, Vr, Tr, dan Pr(
keterangan sama seperti diatas kecuali P = diperoleh dari beban rencana yang
boleh bekerja pada suatu struktur atau komponen struktur.
Kuat
perlu (Ru), diartikan sebagai kekuatan suatu komponen struktur atau penampang yang
diperlukan untuk menahan beban terfaktor atau momen dan gaya dalam yang
berkaitan dengan beban tersebut dalam kombinasi beban U. Kuat perlu juga bisa
ditulis dengan simbol-simbol Mu, Vu, Tu, dan Pu.
Karena pada dasarnya kuat rencana
Rr, merupakan kekuatan gaya dalam (berada di dalam struktur), sedangkan kuat
perlu Ru merupakan kekuatan gaya luar (di luar struktur) yang bekerja pada
struktur, maka agar perencanaan struktur dapat dijamin keamanannya harus
dipenuhi syarat berikut :
·
Kuat rencanaRr harus >
kuat perlu Ru
2.10 Prinsip hitungan beton bertulang
Hitungan struktur beton bertulang pada dasarnya meliputi 2 buah
hitungan, yaitu hitungan yang berkaitan dengan gaya luar dan hitungan yang
berkaitan dengan gaya dalam.
Pada hitungan dari gaya luar, maka harus disertai dengan faktor keamanan
yang disebut faktor beban sehingga diperoleh kuat perlu Ru. Sedangkan pada
hitungan dari gaya dalam, maka disertai dengan faktor aman yang disebut faktor
reduksi kekuatan sehingga diperoleh kuat rencana Rr = Rn * faktor reduksi,
selanjutnya agar struktur dapat memikul beban dari luar yang bekerja pada
struktur tersebut, maka harus dipenuhi syarat bahwa kuat rencana Rr minimal
harus sama dengan kuat perlu Ru.
BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
·
Struktur atas suatu gedung adalah seluruh bagian
struktur gedung yang berada di atas muka tanah (SNI 2002). Struktur atas ini
terdiri atas kolom, pelat, balok dinding geser dan tangga, yang masing-masing
mempunyai peran yang sangat penting.
·
Komponen-komponen struktur atas :
1.
Kolom
2.
Balok
3.
Plat
4.
Tangga
·
Balok tanpa tulangan tidak dapat disebut beton
bertulang. Balok dengan tulangan fungsinya untuk menahan gaya tarik yang cukup
besar pada serat-serat balok bagian tepi bawah, maka perlu diberi baja tulangan
sehingga disebut dengan “beton bertulang”.
·
Perencanaan struktur dapat dijamin keamanannya
harus dipenuhi syarat berikut : Kuat rencanaRr harus > kuat perlu Ru
3.2 Saran
Dalam merencanakan struktur beton bertulang,
diusahakan mengikuti SNI yang berlaku untuk perancangannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.
2015. https://id.wikipedia.org/wiki/Teknik_struktur.
Diakses pada 9 November 2018 pukul 14.10.
Anonim. 2014. http://tangisanpena.blogspot.com/2014/03/struktur-bangunan.html.
Diakses pada 9 November 2018 pukul 19.06.
Anonim.
2018. https://civilengginering.wordpress.com/2016/03/28/struktur-atas-upper-structure-dan-struktur-bawah-lower-structure/.
Diakses pada 9 November pukul 19.07.
Sanggap.
2010. https://sanggapramana.wordpress.com/2010/07/30/belajar-tentang-balok-dan-pelat-beton-bertulang-untuk-pemula/. Diakses
pada 9 November 2018 pukul 23.23.
Anonim.
2014. https://id.wikipedia.org/wiki/Tangga. Diakses
pada 9 November 2018 pukul 23.52.
Anonim. 2013. http://sipilworld.blogspot.com/2013/04/cara-pemasangan-bekisting-tangga-di.html. Diakses
pada 9 November 2018 pukul 23.52.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar