KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
puji syukur atas kehadirat Allah SWT
sehingga dengan rahmatNya lah tugas
makalah “Korelasi Manusia dan Harapan”
mata kuliah Ilmu Budaya Dasar sudah dapat diselesaikan dengan baik.
Penyusun mengusung judul tersebut karena sesuai dengan
tema utamanya yaitu Manusia dan Harapan
Penyusunan makalah ini untuk tugas makalah Ilmu Budaya
Dasar Universitas Gunadarma, Karena penyusunan makalah ini tidaklah sempurna
saya selaku penyusun meminta saran dan kritik supaya ke depannya kesalahannya
dapat di minimalisir lagi.
Jakarta,
Juni 2016
Ashar Muallidiniyah
2
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………………2
DAFTAR
ISI………………………………………………………….………………………..3
BAB
1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………...4
1.1 Latar
Belakang………………………………………………………………………….…...4
BAB
2 PEMBAHASAN………………………………………………………………….……5
2.1 Penyebab manusia
mempunyai harapan…………………………………………………….5
2.2 Kepercayaan……………………………………………………………………………..….8
BAB
3 PENUTUP…………………………………………………………………………….10
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………10
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………………………11
3
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap
manusia mempunyai harapan. Manusia tanpa harapan berarti manusia itu mati dalam
hidup. Harapan bergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan
kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya harapan tergantung pada usaha
orang yang memiliki harapan. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik
kepercayaan terhadap diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh.
Manusia
wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
Harapan berasal dari
kata ‘harap’ yang artinya keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan
berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian hal ini
menyangkut masa depan.
Contoh :
Ø Budi
seorang mahasiswa STMIK Gunadarma, ia rajin belajar dengan harapan di dalam ujian
semester mendapatkan angka yang baik
Ø Hadir
seorang wiraswasta yang rajin. Sejak mulai menggarap usahanya ia mempunyai
harapan usahanya menjadi besar dan maju. Ia yakin usahanya menjadi kenyataan,
karena itu berusaha bersungguh-sungguh dengan usahanya.
Dari kedua contoh
tersebut dapat terlihat Budi dan Hadir mempunyai sebuah harapan.
Persamaan harapan dan
cita-cita :
Ø Keduanya
menyangkut masa depan karena belum terwujud
Ø Pada
umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik
atau meningkat.
4
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Penyebab manusia mempunyai harapan
Menurut
kodrat manusia adalah makhluk sosial. Setiap lahir ke dunia langsung disambut
dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota
masyarakat lainnya. Ada 2 hal yang mendorong orang hidup bergaul dengan manusia
lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan Kodrat
Kodrat ialah sifat, keadaan, atau
pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu
diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan,
berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan
untuk itu semua.
Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai
keinginan atau harapan. Contoh : Pertunjukan lawak, orang yang menonton
pertunjukan lawak, ia ingin tertawa dan pemeran pun berharap penonton tertawa. Apabila
penonton tidak tertawa, harapan kedua belah pihak gagal, justru sedihlah
mereka.
Kodrat juga terdapat pada binatang dan
tumbuhan- tumbuhan, karena binatang dan tumbuhan perlu makan, berkembang biak
dan mati. Yang mirip dengan kodrat manusia ialah kodrat binatang, walau
bagaimanapun juga besar sekali perbedaannya. Perbedaan antara kedua makhluk
itu, ialah bahwa manusia memiliki budi dan kehendak. Budi ialah akal, kemampuan
untuk memilih. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan, sebab bila orang akan
memilih, ia harus mengetahui lebih dahulu barang yang dipilihnya. Dengan budinya
manusia dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.
Dalam diri manusia masing-masing sudah
terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup
bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lain.
5
Dengan
kodrat ini, maka manusia mempunyai harapan.
Dorongan kebutuhan hidup
Sudah
kodrat pula bahwa manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup
itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas : kebutuhan jasmani dan kebutuhan
rohani.
Kebutuhan jasmani misalnya : makan, minum,
pakaian, rumah. (sandang, pangan, dan papan). Ketenangan, hiburan dan
keberhasilan.
Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia
bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan, kemampuan manusia sangat
terbatan, baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikirnya.
Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia
mempunyai harapan. Pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Menurut Abraham Maslow sesuai dengan
kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manusia itu ialah :
a.
Kelangsungan hidup (survival)
b.
Keamanan (safety)
c.
Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai
(be loving and love)
d.
Diakui lingkungan (status)
e.
Perwujudan cita-cita (self
actualization)
Kelangsungan
hidup (survival)
Untuk melangsungkan hidupnya manusia membutuhkan sandang,
pangan, dan papan (tempat tinggal). Kebutuhan kelangsungan hidup ini terlihat sejak
bayi lahir.
Setiap bayi begitu lahir di bumi menangis ; ia telah
mengharapkan diberi makan/minum. Kebutuhan akan makan/minum ini terus
berkembang sesuai dengan perkembangan hidup manusia.
6
Sandang, semula hanya
berupa perlindungan/ keamanan, untuk melindungi dirinya terhadap cuaca. Tetapi dalam
perkembangan hidupnya, sandang tidak hanya sebagai perlindungan keamanan,
tetapi lebih cenderung kepada kebutuhan lain.
Papan yang dimaksud adalah tempat tinggal atau rumah.
Rumah kebutuhan primer manusia, karena rumah itu sebagai tempat berlindung.
Untuk mencukupi kebutuhan pangan, sandang, dan papan itu,
maka manusia sejak kecil telah mulai belajar. Dengan pengetahuan yang tinggi
harapan memperoleh pangan, sandang, dan papan yang layak akan terpenuhi. Atau setiap
manusia perlu kerja keras dengan harapan apa yang diinginkan ; pangan, sandang,
papan yang layak akan terpenuhi.
Keamanan
Setiap orang membutuhkan keamanan. Sejak seorang anak
lahir ia telah membutuhkan keamanan. Begitu lahir, dengan suara tangis, itu
pertanda minta perlindungan. Setelah agak besar, setiap anak menangis dia akan
diam setelah dipeluk ibunya. Setelah bertambah besar ia ingin dilindungi. Rasa aman
tidak harus diwujudkan dengan perlindungan yang nampak, secara moral pun orang
lain dapat memberi rasa aman. Dalam hal ini agama sering merupakan cara
memperoleh keamanan moril bagi pemiliknya. Walaupun secara fisik keadaannya
dalam bahaya, keyakinan bahwa Tuhan memberikan perlindungan berarti sudah
memberikan keamanan yang diharapkan.
Hak
dan kewajiban dicintai dan mencintai
Tiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan
manusia maka tumbuh pula kesadaran akan hak dan kewajiban. Karena itu tidak
jarang anak-anak remaja mengatakan kepada ayah dan ibu. “Ibu ini kok menganggap
Reny masih kecil saja, semua diatur!” Itu suatu pertanda bahwa anak itu telah
tambah kesadaran aka hak dan kewajibannya.
Bila seorang telah menginjak dewasa, maka ia merasa sudah
dewasa, sehingga sudah saatnya mempunyai harapan untuk dicintai dan mencintai. Pada
saat itu, biasanya terjadi konflik batin pada dirinya dengan pihak orang tua. Sebab
umumnya remaja mulai menentang sifat-sifat orang tua yang dianggap tidak sesuai
dengan alamnya.
7
Status
Setiap manusia membutuhkan status. Siapa, untuk apa,
mengapa manusia hidup. Dalam lagu “untuk apa” ada lirik yang berbunyi “aku ini
anak siapa, mengapa aku ini dilahirkan”. Dari bagian lirik itu kita dapat
mengambil kesimpulan, bahwa setiap manusia yang lahir di bumi ini tentu akan bertanya tentang statusnya.
Perwujudan
Cita-cita
Selanjutnya manusia berharap diakui keberadaannya sesuai
dengan keahliannya atau kepangkatannya atau profesinya. Pada saat itu manusia
mengembangkan bakat atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui
kehebatannya.
2.2
Kepercayaan
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui
atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan ialah hal-hal yang berhubungan dengan
pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Ada ucapan yang sering kita dengar.
-
Ia tidak percaya pada diri sendiri
-
Saya tidak percaya ia berbuat seperti
itu atau berita itu kurang dapat dipercaya
-
Bagaimana juga kita harus percaya kepada
pemerintah
-
Kita harus percaya akan nasehat-nasehat
kyai itu, karena nasehat-nasehat itu diambil dari ajaran al-Qur’an
Dengan contoh berbagai kalimat yang
sering kita dengar dalam ucapan sehari-sehari itu,
maka jelaslah kepada
kita, bahwa dasar kepercayaan itu adalah kebenaran.
Ada jenis pengetahuan yang dimiliki seseorang, bukan
karena merupakan hasil penyelidikan sendiri, melainkan diterima dari orang lain.
Kebenaran pengetahuan yang didasarkan atas orang lain itu disebabkan karena
orang lain itu dapat dipercaya.
Kebenaran
Kebenaran atau benar amat penting bagi manusia. Setiap orang
mendambakannya, karena ia mempunyai arti khusus bagi hidupnya. Dalam tingkah laku,
ucapan, perbuatan manusia selalu
8
berhati-hati agar
mereka tidak menyimpang dari kebenaran. Manusia sadar bahwa ketidakbenaran bertindak
maupun berucap dapat mencemarkan nama baiknya.
Jelaslah bagi kita, bahwa kebenaran atau benar merupakan
kunci kebahagiaan manusia. Itulah sebabnya manusia selalu berusaha mencari
mempertahankan, memperjuangkan kebenaran.
9
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setiap manusia mempunyai suatu harapan yang dapat
diperjuangkan. Harapan tersebut dapat diakses dengan ikhtiar dan doa. Manusia
mempunyai harapan karena sudah menjadi kodratnya dari lahir dan dorongan
kebutuhan hidup yang menyebabkan antar sesama manusia saling membutuhkan satu
sama lain.
Percaya bahwa hidup itu adil dan mempergunakannya di
jalan kebenaran merupakan suatu tujuan hidup sebenarnya, karena tanpa kebenaran
kita tidak akan merasa tentram.
10
DAFTAR PUSTAKA
bab11-manusia_dan_harapan.pdf
(Journal)
11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar