PENGENALAN TENTANG JEMBATAN
Disusun
oleh:
Ashar
Muallidiniyah (11315087)
Dosen Pengajar :
I Kadek Bagus Widana Putra
FAKULTAS
TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS
GUNADARMA
TAHUN
2018/2019
Sebelumnya kalian tentu pernah melihat jembatan, tetapi apakah
kalian mengetahui makna dari kata jembatan itu sendiri?
Nah disini, saya akan mengajak teman-teman pembaca untuk mengulas
sedikit tentang jembatan
Jembatan merupakan salah satu bentuk konstruksi
yang berfungsi meneruskan jalan melalui suatu rintangan. Seperti sungai, lembah
dan lain-lain sehingga lalu lintas jalan tidak terputus olehnya.
Dalam
perencanaan konstruksi jembatan dikenal dua bagian yang merupakan satu kesatuan
yang utuh yakni :
1.
Bangunan
Bawah (Sub Struktur)
2.
Bangunan
Atas (Super Struktur)
Bangunan atas terdiri dari lantai kendaraan,
trotoar, tiang-tiang sandaran dan gelagar.
Bangunan bawah terdiri dari
pondasi, abutmen, pilar jembatan dan lain-lain.
1. Lalu apa pengaruh kriteria
jembatan dan kriterianya apa saja?
Kriteria jembatan itu harus memenuhi pokok-pokok perencanaannya
Pokok-pokok
perencanaan jembatannya :
- Kekuatan dan Kekakuan Struktur
- Stabilitas Struktur
- Kelayanan Struktur
- Keawetan
- Kemudahan Pelaksanaan
- Ekonomis
- Bentuk Estetika
Kriteria desain jembatan
(Syarat-syarat desain Jembatan) :
1. Umur Rencana jembatan
standar adalah 50 tahun dan jembatan khusus
adalah 100 tahun.
2. Pembebanan
Jembatan menggunakan BM 100.
3. Geometrik:
- Lebar
jembatan minimum jalan nasional kelas A adalah 1 + 7 + 1 meter.
- Superelevasi/kemiringan melintang adalah
2% pada lantai jembatan dan
kemiringan memanjang maksimum 5%.
- Ruang bebas vertikal di atas jembatan minimal 5,1
meter.
- Ruang
bebas vertikal dan horisontal di bawah jembatan disesuaikan
kebutuhan lalu lintas kapal dengan
diambil free board minimal 1,0 meter
dari muka air banjir.
- Dihindari tikungan diatas jembatan dan
oprit.
- Untuk
kebutuhan estetika pada daerah tertentu/pariwisata dapat berupa
bentuk parapet dan railing maupun lebar
jembatan dapat dibuat khusus
atas
persetujuan pengguna jasa.
- Geometrik
jembatan tidak menutup akses penduduk di kiri – kanan oprit.
4. Material:
- Mutu beton lantai K-350, bangunan atas
minimal K-350, bangunan
bawah
K-250
termasuk untuk isian tiang pancang, sedangkan untuk bore pile K-
350.
- Mutu
baja tulangan menggunakan BJTP 24 untuk < D13, dan BJTD 32
atau BJTD 39 untuk > D13, dengan
variasi diameter tulangan dibatasi
paling
banyak 5 ukuran.
5. Untuk memudahkan validasi koreksi atas gambar
rencana, gambar rencana
diusahakan sebanyak
mungkin dalam bentuk gambar tipikal dan gambar standar.
2. Peraturan-peraturan legal yang
bersinggungan perencanaan jembatan?
Nah, dalam
merencanakan jembatan juga ada aturannya loh, berikut peraturannya :
1.
Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS ’92
dengan revisi pada:
- Bagian 2 dengan Pembebanan Untuk Jembatan (SK.SNI
T-02-2005),
sesuai
Kepmen PU No. 498/KPTS/M/2005.
- Bagian 6 dengan Perencanaan Struktur Beton
untuk Jembatan (SK.SNI
T-12-2004),
sesuai Kepmen PU No. 260/KPTS/M/2004.
- Bagian 7 dengan Perencanaan struktur baja
untuk jembatan (SK.SNI T-
03-2005),
sesuai Kepmen PU No. 498/KPTS/M/2005.
2. Standar Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Jembatan (Revisi SNI 03-
2883-1992).
3. Juga dapat mengikuti Manual
Perencanaan Jembatan (Bridge Design
Manual) BMS ’92.
4. Perencanaan jalan pendekat dan oprit harus mengacu kepada:
- Standar
perencanaan jalan pendekat jembatan (Pd T-11-2003).
- Stándar-stándar perencanaan jalan yang
berlaku.
5. Perhitungan atau analisa harga satuan
pekerjaan mengikuti ketentuan:
- Panduan
Analisa Harga Satuan, No. 028/T/Bm/1995, Direktorat Jenderal Bina Marga,
Departemen Pekerjaan Umum.
6. SNI 1725:2016 tentang Pembebanan Jembatan
7. SNI 2833:2008
Tata Cara Perencanaan Gempa Untuk Jembatan (Revisi
dari SNI
03-2833-1992)
8. RSNI
T-12-2004 Perencanaan struktur beton untuk jembatan
9. RSNI
T-03-2005 Perencanaan struktur baja untuk jembatan
10. RSNI T-02-2005 Pembebanan
Untuk Jembatan
11. BMS 93 :
Lampiran A dan Penjelasan Bag 1 sd. 9
12.
BMS 93 :
Panduan Pengawasan dan Pelaksanaan jembatan
13. Guidelines
for the Installation, Inspection, Maintenance and Repair of
Structural Supports for Highway Signs,
Luminaires and Traffic Signals,
FHWA NHI 05-036, March 2005
14. Modifikasi
Jembatan Bailey dengan Cara Perkuatan Cable
15.
Panduan
Pengawasan dan Pelaksanaan Jembatan
16. RSNI
T-04-2005 : Perencanaan Struktur Beton Untuk Jembatan
17. Spesifikasi Bantalan Elastomer Tipe Polos dan
Tipe Berlapis untuk
Perletakan Jembatan
18.
Spesifikasi Pilar dan Kepala Jembatan
Sederhana Bentang 5 m sampai 25
dengan Fondasi Tiang Pancang
19. Standar
Jembatan Bina Marga
20. Standar
Pembebanan Untuk Jembatan Jalan Raya
21. Standar
Perencanaan Gempa Untuk Jembatan
22. VSL-Indonesia
3. Bagian-bagian konstruksi jembatan?
PERENCANAAN
BANGUNAN ATAS JEMBATAN
Apabila tidak direncanakan secara khusus maka dapat digunakan bangunan
atas jembatan standar Bina Marga sesuai bentang ekonomis dan kondisi lalu-lintas
air di bawahnya seperti:
- Box
Culvert (single, double, triple), bentang 1 s/d 10 meter.
- Voided
Slab sampai dengan bentang 6 s/d 16 meter.
- Gelagar
Beton Bertulang Tipe T bentang 6 s/d 25 m.
- Gelagar
Beton Pratekan Tipe I dan Box bentang 16 s/d 40 meter.
- Girder
Komposit Tipe I dan Box bentang 20 s/d 40 meter.
- Rangka
Baja bentang 40 s/d 60 meter.
Penggunaan bangunan atas diutamakan dari sistem gelagar beton bertulang
atau box culvert serta Gelagar pratekan untuk bentang pendek dan untuk kondisi
lainnya dapat mengunakan gelagar komposit atau rangka baja dan lain sebagainya.
Untuk perencanaan bangunan atas jembatan harus mengacu antara lain:
- Perencanaan struktur atas menggunakan Limit
States atau Rencana
Keadaan Batas berupa
Ultimate Limit States (ULS) dan Serviceability Limit
States (SLS).
- Lawan
lendut dan lendutan dari struktur atas jembatan harus dihitung dengan
cermat, baik untuk jangka pendek maupun
jangka panjang agar tidak
melampaui nilai batas yang diizinkan
yaitu simple beam < L/800 dan
kantilever L/400.
- Memperhatikan
perilaku jangka panjang material dan kondisi lingkungan
jembatan berada khususnya selimut beton, permeabilitas beton, atau tebal
jembatan berada khususnya selimut beton, permeabilitas beton, atau tebal
elemen baja dan galvanis terhadap
resiko korosi ataupun potensi degradasi
meterial.
PERENCANAAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN
Perencanaan struktur bawah menggunakan Limit States atau Rencana
Keadaan Batas berupa Ultimate Limit States (ULS) dan Serviceability Limit
States (SLS).
Abutment:
- Abutment tipe cap dengan tinggi tipikal
1,5 – 2 meter
- Abutment tipe kodok dengan tinggi tipikal 2 –
3,5 meter
- Abutment tipe dinding penuh dengan tinggi
tipikal > 4 meter
Pilar:
- Pilar balok cap
- Pilar dinding penuh
- Pilar portal satu tingkat
- Pilar portal dua tingkat
- Pilar kolom tunggal (dihindarkan
untuk daerah zona gempa besar)
- Struktur bawah harus direncanakan berdasarkan perilaku jangka panjang
material dan kondisi lingkungan, antara lain: selimut beton yang digunakan
material dan kondisi lingkungan, antara lain: selimut beton yang digunakan
minimal 30mm (daerah normal)
dan minimal 50 mm (daerah agresif).
PERENCANAAN PONDASI JEMBATAN
Perencanaan pondasi menggunakan Working Stress Design (WSD)
Penentuan jenis pondasi jembatan:
1.
Pondasi dangkal/pondasi
telapak (dihindarkan untuk daerah potensi
scouring besar):
Bebas dari
pengaruh scouring, kedalaman optimal 0,3 s/d 3 meter.
2. Pondasi caisson:
Diameter 2,5 s/d 4,0 meter, kedalaman optimal
3 s/d 9 meter.
3. Pondasi
tiang pancang pipa baja:
Diameter 0,4 s/d 1,2 meter, kedalaman
optimal 7 m s/d 50 meter.
4. Pondasi
tiang pancang beton pratekan:
Diameter 0,4 s/d 0,6 meter, kedalaman
optimal 18 s/d 30 meter.
5. Pondasi
Tiang Bor:
Diameter 0,8 s/d 1,2 meter, kedalaman
optimal 18 s/d 30 meter.
Jenis fondasi diusahakan seragam untuk satu lokasi jembatan termasuknya
dimensi-dimensinya, hindari pondasi langsung untuk daerah dengan gerusan yang
besar.
Fondasi dari tiang pancang pipa baja Grade-2 ASTM-252 yang diisi dengan
beton bertulang non-shrinkage (semen type II) atau fondasi tiang bor.
Faktor keamanan. Bila analisa menggunakan
data tanah dari sondir, maka:
- Tiang
pancang, SF Point Bearing= 3 dan SF Friction
pile= 5
- Sumuran,
SF Daya dukung tanah = 20, SF Geser = 1,5 dan SF Guling = 1,5
Kalendering
terakhir:
Tiang Pancang 1 – 3 cm / 10 pukulan
untuk end point bearing dengan jenis
hammer yang sesuai sehinga dapat
memenuhi daya dukung tiang rencana.
PERENCANAAN JALAN
PENDEKAT
Tinggi timbunan tidak boleh melebihi H izin sebagai berikut:
H kritis = (c Nc + g D Nq) / g
H izin = H kritis / SF dengan SF = 3
Bila Tinggi timbunan melebihi H izin harus direncanakan dengan sistem
perkuatan tanah dasar yang telah ada.
4.
Bentuk-bentuk jembatan :
Secara Umum :
Berdasarkan
material superstruktur :
Menurut
material superstrukturnya jembatan diklasifikasikan atas:
− Jembatan baja
Jembatan yang menggunakan berbagai macam komponen dan sistem
− Jembatan baja
Jembatan yang menggunakan berbagai macam komponen dan sistem
struktur baja: deck, girder, rangka batang,
pelengkung, penahan dan
penggantung kabel.
− Jembatan beton
Jembatan yang beton bertulang dan beton prategang
− Jembatan kayu
Jembatan dengan bahan kayu untuk bentang yang relatif pendek
− Jembatan Metal alloy
Jembatan yang menggunakan bahan metal alloy seperti alluminium alloy
− Jembatan beton
Jembatan yang beton bertulang dan beton prategang
− Jembatan kayu
Jembatan dengan bahan kayu untuk bentang yang relatif pendek
− Jembatan Metal alloy
Jembatan yang menggunakan bahan metal alloy seperti alluminium alloy
dan stainless steel
− Jembatan komposit
Jembatan dengan bahan komposit komposit fiber dan plastik
− Jembatan batu
Jembatan yang terbuat dari bahan batu; di masa lampau batu merupakan
− Jembatan komposit
Jembatan dengan bahan komposit komposit fiber dan plastik
− Jembatan batu
Jembatan yang terbuat dari bahan batu; di masa lampau batu merupakan
bahan yang umum digunakan untuk
jembatan pelengkung.
Berdasarkan penggunanya
Berdasarkan penggunanya
− Jembatan jalan
Jembatan untuk lalu lintas kendaraan bermotor
− Jembatan kereta api
Jembatan untuk lintasan kereta api
− Jembatan kombinasi
Jembatan yang digunakan sebagai lintasan kendaraan bermotor dan kereta
Jembatan untuk lalu lintas kendaraan bermotor
− Jembatan kereta api
Jembatan untuk lintasan kereta api
− Jembatan kombinasi
Jembatan yang digunakan sebagai lintasan kendaraan bermotor dan kereta
api
− Jembatan pejalan kaki
Jembatan yang digunakan untuk lalu lintas pejalan kaki
− Jembatan aquaduct
Jembatan untuk menyangga jaringan perpipaan saluran air
Berdasarkan sistem struktur yang digunakan
− Jembatan pejalan kaki
Jembatan yang digunakan untuk lalu lintas pejalan kaki
− Jembatan aquaduct
Jembatan untuk menyangga jaringan perpipaan saluran air
Berdasarkan sistem struktur yang digunakan
− Jembatan
I–Girder.
Gelagar utama terdiri dari plat girder atau rolled-I. Penampang I efektif
Gelagar utama terdiri dari plat girder atau rolled-I. Penampang I efektif
menahan beban tekuk dan geser.
− Jembatan gelagar kotak (box girder)
Gelagar utama terdiri dari satu atau beberapa balok kotak baja fabrikasi dan
− Jembatan gelagar kotak (box girder)
Gelagar utama terdiri dari satu atau beberapa balok kotak baja fabrikasi dan
dibangun dari beton, sehingga mampu
menahan lendutan, geser dan torsi
secara efektif.
− Jembatan Balok T (T-Beam)
Sejumlah Balok T dari beton bertulang diletakkan bersebelahan untuk
− Jembatan Balok T (T-Beam)
Sejumlah Balok T dari beton bertulang diletakkan bersebelahan untuk
mendukung beban hidup
− Jembatan Gelagar Komposit
Plat lantai beton dihubungkan dengan girder atau gelagar baja yang bekerja
− Jembatan Gelagar Komposit
Plat lantai beton dihubungkan dengan girder atau gelagar baja yang bekerja
sama mendukung beban sebagai satu
kesatuan balok. Gelagar baja
terutama menahan tarik sedangkan plat
beton menahan momen lendutan.
− Jembatan gelagar grillage (grillage girder)
Gelagar utama dihubungkan secara melintang dengan balok lantai
− Jembatan gelagar grillage (grillage girder)
Gelagar utama dihubungkan secara melintang dengan balok lantai
membentuk pola grid dan akan menyalurkan
beban bersama-sama
− Jembatan Dek Othotropic
Dek terdiri dari plat dek baja dan rusuk/rib pengaku
− Jembatan Rangka Batang (Truss), dstnya.
− Jembatan Dek Othotropic
Dek terdiri dari plat dek baja dan rusuk/rib pengaku
− Jembatan Rangka Batang (Truss), dstnya.
5. Beban-beban yang bekerja dalam jembatan :
Dalam perencanaan struktur jemabatan secara umum,
khususnya jembatan komposit, hal yang perlu sekali diperhatikan adalah masalah
pembebanan yang akan bekerja pada struktur jembatan yang dibuat. Menurut
pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPPJJR No 378/1987) dan
PMJJR No 12/1970 membagi pembebanan jembatan dalam dua kelas, yaitu:
Kelas
|
Berat Beton
|
A
B
|
10
8
|
Table 2.1 Kelas tekan as gandar
(PMJJR No.12/1970)
Ada
beberapa macam pembebanan yang bekerja pada struktur jembatan, yaitu:
5.1 Beban Primer
Beban primer merupakan beban utama dalam
perhitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan, yang terdiri dari: beban
mati, beban hidup, beban kejut dan gaya akibat tekanan tanah.
a.
Beban mati
Beban
mati adalah beban yang berasal dari berat jembatan itu sendiri yang ditinjau
dan termaksud segala unsur tambahan tetap yang merupakan satu kesatuan dengan
jembatan. Untuk menemukan besar seluruhnya ditentukan berdasarkan berat volume
beban.
b.
Beban hidup
Beban
hidup adalah semua beban yang berasal dari berat kendaraan-kendaraan yang
bergerak dan pejalan kaki yang dianggap bekerja pada jembatan. Penggunaan beban
hidup di atas jembatan yang harus ditinjau dalam dua macam beban yaitu beban
“T” yang merupakan beban terpusat untuk lantai kendaraan dan beban “D” yang
merupakan beban jalur untuk gelagar.
Untuk
perhitungan gelagar harus dipergunakan beban “D” atau beban jalur. Beban jalur
adalah susunan beban pada setiap jalur lalulintas yang terdiri dari beban yang
terbagi beban rata sebesar “q” ton/m panjang perjalur dan beban garis “p” ton
perjalur lalulintas. Untuk menentukan beban “D” digunakan lebar jalan 5,5 m,
maka jumlah jalur lalulintas sebagai berikut:
Table 2.2 jumlah jalur lalulintas
Lebar lantai kendaraan (m)
|
Jumlah jalur lalulintas
|
5,50 – 8,25 m
8,25 – 11,25 m
11,25 – 15,00 m
15,00 – 18,75 m
18,75 – 32,50 m
|
2
3
4
5
6
|
(PPPJJR No. 378/KPTS/1987)
Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan sama atau lebih kecil dari
5,50 m makan beban “D” sepenuhnya (100%) dibebankan pada seluruh lebar jembatan
dan kelebihan lebar jembatan dari 5,5 m mendapat separuh beban “D” (50%). Jalur
lalulintas ini mempunyai lebar minimum 2,75 m dan lebar maksimum 3,75 m. Beban
“T” adalah beban kendaraan Truck yang mempunyai beban roda 10ton (10.000 Kg)
dengan ukuran-ukuran serta kedudukan dalam meter, seperti tertera pada gambar
2.3 untuk perhitungan pada lantai kendaraan jembatan digunakan beban “T” yaitu
merupakan beban pusat dari kendaraan truck dengan beban roda ganda (dual wheel load) sebesar 10 ton.
Dimana beban garis P= 12 ton sedangkan beban q ditentukan dengan
ketentuan sebagai berikut:
Q= 2,2 t/m untuk L<30 m
Q= 2,2 t/m – (11 / 60) x (L - 30) t/m untuk 30>L<
…..[2-1]
Q= 1,1 x (1 + (30 / L)) t/m untuk L>60m
Dimana L adalah panjang bentangan gelagar utama (m) untuk menentukan
beban hidup, beban terbagi rata (t/m/jalur) dan beban garis (t/jalur) dan perlu
diperhatikan ketentuan bawah.
Beban terbagi merata = Q ton/meter………................[2-2]
2,75 m
Beban
garis = Q ton ......................................[2-3]
2,75 m
Angka pembagi 2,75 meter diatas selalu tetap dan
tidak tergantung pada
lebar jalur lalu lintas. Dalam perhitungan
beban hidup tidak penuh, maka
digunakan:
· Jembatan permanen= 100% beban “D” dan “T”.
· Jembatan semi permanen= 70% beban “D” dan “T”.
· Jembatan sementara= 50% “D” dan “T”.
Dengan menggunakan beban “D” untuk suatu jembatan berlaku ketentuan
ini.
c. Beban kejutan/Sentuh
Beban kejut diperhitungkan pengaruh
getaran-getaran dari pengaruh dinamis lainnya, tegangan-tegangan akibat beban
garis (P) harus dikalikan dengan koefisien kejut. Sedangkan beban terbagi rata
(q) dan beban terpusat (T) tidak dikalikan dengan koefisien kejut. Besar
koefisien kejut dengan rumus :
k = 1 + ((20 / (50+L)) dimana K = Koefisien kejut ; L =
Panjang jembatan
Beban sekunder :
1.
Beban Angin
Pengaruh tekanan angin bekerja dalam arah horizontal
sebesar 100 kg / cm2. Dalam memperhitungkan jumlah luas bagian
jembatan pada setiap sisi digunakan jumlah luas bagian jembatan pada setiap
sisi dengan ketentuan :
- Untuk jembatan berdinding penuh diambil
sebesar 100% terhadap luas
sisi jembatan
- Untuk jembatan rangka diambil sebesar
30% terhadap luas sisi
jembatan.
2.
Beban Gaya Rem
Gaya ini bekerja dalam arah
memanjang jembatan, akibat gaya rem dan traksi ditinjau untuk kedua jurusan
lalu lintas. Pengaruh ini diperhitungkan senilai dengan pengaruh gaya rem
sebesar 5% dari muatan D tanpa koefisien kejut yang memenuhi semua jalur lalu
lintas yang ada dalam satu jurusan.
3.
Gaya Akibat Perbedaan Suhu
Perbedaan suhu harus ditetapkan
sesuai dengan keadaan setempat. Diasumsikan untuk baja sebesar C dan beton 10.
Peninjauan khusus terhadap timbulnya tegangan-tegangan akibat perbedaan suhu
yang ada antara bagian-bagian jembatan dengan bahan yang berbeda.
4.
Beban Gempa
Untuk pembangunan jembatan
pada daerah yang dipengaruhi oleh gempa, maka beban gempa juga diperhitungkan
dalam perencanaan struktur jembatan.
5.
Beban Angin
5.2 Kombinasi
Pembebanan
Kontruksi jembatan beserta bagian-bagiannya harus
ditinjau dari kombinasi pembebanan dan gaya yang mungkin bekerja. Sesuai dengan
sifat-sifat serta kemungkinan-kemungkinan pada setiap beban, tegangan yang
digunakan dalam kekuatan pemeriksaan kontruksi yang bersangkutan dinaikkan
terhadap tegangan yang diizinkan sesuai dengan elastis. Tegangan yang digunakan
dinyatakan dalam proses terhadap tegangan yang diizinkan sesuai kobinasi pembebanan
dan gaya pada table 2.3 berikut ini:
Kombinasi Pembebanan dan Gaya
|
Tegangan yang digunakan dlm proses terhadap
tegangan izin keadaan elastis
|
I.
M+(11+k)+Ta+Tu
II.
M+Ta+Ah+Gg+A+SR+Tm
III.
Kombinasi(1)+Rm+Gg+A+SR+Tm+S
IV.
M+Gh+Tag+Gg+Ahg+Tu
V.
M+PI
VI.
M+(H+K)+Ta+S+Tb
|
100%
125%
140%
150%
130%
150%
|
(PPPJJR No 378/KPTS/1987)
Dimana:
A :
beban angin
Ah :
gaya akibat aliran dan hanyutan
Ahg :
gaya akibat aliran dan hanyutan pada waktu gempa
Gg :
gaya gesek pada tumpuan bergerak
Gh :
gaya horizontal ekivalen akibat gempa bumi
(H+K) : beban
hidup dengan kejut
M :
beban mati
P1 :
gaya-gaya pada waktu pelaksanaan
Rm : gaya
rem
S :
gaya sentrifugal
SR :
gaya akibat perubahan suhu (selain susut dan rangkak)
Ta :
gaya tekanan tanah
Tag :
gaya tekanan tanah akibat gempa
Tb :
gaya tumbukkan
Tu :
gaya angkat (buoyancy)
Nama Penulis : Ashar Muallidiniyah
NPM : 11315087
Kelas : 3TA03
(Mengulang)
Dosen : I
Kadek Bagus Widana Putra
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Anonim.
2016. https://tekniksipil411.wordpress.com/2016/04/17/first-blog-post/. Diakses
pada 15 Maret 2019.
2.
Suteki,
Irfan. 2014. http://konsultan-teknik.blogspot.com/2014/08/kriteria-desain-jembatan.html.
Diakses pada 15 Maret 2019.
3.
Ahlal.
2013. https://civilengeenering.wordpress.com/2013/05/09/peraturan-dan-standar-jembatan/.
Diakses pada 15 Maret 2019.
4.
Anonim.
2012. http://sma-muhamadiyah.blogspot.com/2012/09/klasifikasi-dan-bentuk-jembatan.html.
Diakses pada 15 Maret 2019.
5.
Candazr.
2012. https://candrazr.wordpress.com/2012/04/11/konfigurasi-jembatan-rangka-baja/.
Diakses pada 15 Maret 2019.
6.
Jefri.
2012. https://jefrihutagalung.wordpress.com/2014/03/02/standard-dan-peraturan-sni-bangunan-dan-gedung/.
Diakses pada 15 Maret 2019.
7.
Zai.
2011. http://zaialqudri26.blogspot.com/2011/11/pengenalan-konstruksi-jembatan.html.
Diakses pada 15 Maret 2019.
8.
Ahadi.
2011. http://www.ilmusipil.com/menghitung-beban-struktur-jembatan. Diakses pada
15 Maret 2019.
9.
Yance.
2011. http://yanceadii.blogspot.com/2011/07/perencanaan-jembatan.html. Diakses
pada 15 Maret 2019.